Senin, 18 Juli 2011

BERSYUKUR ATAS NIKMAT SEHAT

pernahkah kita berfikir bagaimana kalau kita lumpuh, tidak bisa melihat, mendengar, tanpa tangan jari_jemari, na'udhubillah tsumma na'udhubillah. Kita termasuk orang_orang yang jarang bersyukur, atas karunia nikmat sehat yang sungguh luar biasa..!! Saking dari luar biasanya, sehingga kita jadi lupa diri. Bahkan untuk sekedar bersudjud 5 waktu kepadanya, sering tidak sempat. Bagaimana juga mau dikatakan sebagai ummat Rasulullah Muhammad SAW. Kalau untuk bershalawat saja, masih harus dipaksa melalui shalat 5 waktu. Sementara beliau dimasa hidup, selalu mengabdikan diri dan mengingat ummat. Bahkan ketika maut mau menjemput ajal beliau, yang didengungkan, ummati, ummati, ummati. Subhanallah..!!!
Jika kita membayangkan ada orang yang tidak punya kaki atau lumpuh tidak bisa jalan. Subhanallah, dengan karunia Allah, kaki saya masih lengkap dan sehat pula. Atau memperhatikan orang yang tidak bisa melihat, betapa gelapnya dunia. Subhanallah, mata kita lengkap dan bisa menikmati indahnya panorama alam dan ciptaan Allah yang lainya. Tapi terkadang kita dikalahkan oleh yang buta, tetapi mata hati mereka melihat, astaghfirullah hal 'adzim.
Sebelum ajal sampai di tenggorokan, berdo'alah dan mohon ampunan kepada Allah SWT. Untuk kemudian memperbaiki segala tingkah laku kita yang hanya mementingkan diri dan silau akan kenikmatan dunia yang kenikmatan semu. Semuanya akan kembali kepada Allah.

Hukuman Bagi Orang Sombong

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)
Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)
Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong
Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Dosa Pertama Iblis
Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)
Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam) pada hadist di atas dalam sabda beliau, “
Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {56}
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)
Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.
Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)
Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا {36}
“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {65}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’: 65)
Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Hukuman Pelaku Sombong di Dunia
Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,
أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.
“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).
Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.
Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,
دَرَجَاتٍ الْعِلْمَ أُوتُوا وَالَّذِينَ مِنكُمْ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).
Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)
Tidak Termasuk Kesombongan
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)
Kesombongan yang Paling Buruk
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li Ibni al ‘Utsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)
Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

oleh : oleh Agha Hisyam Al-Haliim

Jangan bersedih (sabar)

Sungguh kesenagan dan kesusahan yang kita alami adalah cobaan dari Allah bahkan kehidupan dunia ini semuanya adalah cobaan. Agar mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat, maka setiap muslim harus memahami hakekat kehidupan dunia ini dan mengambil bekal utama dalam menjalaninya, di antara bekal tersebut adalah sikap sabar.
 Sabar mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam, bahkan semua urusan agama berdiri di atas sabar tersebut yaitu : 

·         Sabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala

·         Sabar dalam menjauhi larangan-Nya

·         Sabar dalam menghadapi mushibah yang dihadapi.
 Dan orang yang bersabar dialah yang beruntung, karena dia telah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan mengharapkan balasan darinya, dan karena gelisah dan bertindak tidak ridha atas apa yang telah menimpa adalah tindakan yang tidak akan merugikan kecuali yang bersangkutan karena orang yang tidak ridha dengan taqdir Allah berarti dia telah terkena mushibah dua kali, mushibah atas mushibah yang telah menimpanya dan mushibah atas hilangnya pahala yang besar yang telah dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi taqdir-Nya.
 Adapun di antara janji Allah bagi orang mu'min yang bersabar adalah : 

1.    Allah akan memberikan ganjaran kepadanya tanpa terhitung.

2.    Dengan mushibah tersebut ( jika bersabar dan mengharapkan balasan dari Allah ) Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.

3.    Allah akan mengangkat derajat orang yang sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah.

malam minggu nggak punya pacar?? Jomblo BERIMAN baca ini nih !!

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh...
MENJOMBLO ADALAH PILIHAN !!!
Kebanyakan manusia tidak begitu saja menempuh
jalan yang disyariatkan penciptanya. Kadang
mereka membuat aturan sendiri pada beberapa
masalah. Pada masalah menjalin hubungan
dengan lawan jenis ini kebanyakan manusia
menempuh jalan awal pernikahan dengan pacaran,
sesuatu yang tidak disyariatkan Sang Pencipta.
Melalui pacaran, pasangan yang berpacaran
berharap bisa mengenal kepribadian dan seluk-
beluk pasangannya sebelum akhirnya
memutuskan untuk menempuh hidup bersama.
Walaupun lazim dilakukan manusia saat ini, ada
juga yang tidak mengambil jalan pacaran ini,
mereka menjadi generasi muda tanpa pacar dan
hidup tanpa pacaran, bahasa gaul saat ini mencap
mereka dengan gelar jomblo. Beberapa macam
alasan saat orang mengambil pilihan untuk
menjadi jomblo.
1. Studi dulu
Sebagian anak muda merasa sadar akan
pentingnya ilmu yang harus ia pelajari, sehingga
mereka menunda masalah hubungan dengan
lawan jenis dengan alasan karena masih sekolah/
kuliah.
Tidak bisa dipungkiri hubungan dengan lawan jenis
berpotensi untuk mengganggu konsentrasi, apalagi
jika hanya sekedar pacaran.
2. Kerja dulu
Kebanyakan orang tua juga setuju dengan alasan
ini jika anaknya menjomblo. Biar kerja dulu, (agak)
mapan dulu, biar bisa memberi makan anak
orang, setelah itu silahkan pacaran!, demikianlah.
Orientasi bekerja tentu saja mencari penghasilan.
Dengan demikian, yang belum bekerja dan tak
ingin merepotkan orang tuanya mengambil alasan
ini untuk tidak berpacaran.
3. Tidak laku-laku
Orang yang seperti ini termasuk kategori
menjomblo tidak sengaja, biasanya mereka tidak
memilih untuk menjomblo. Jadi jangan terkejut jika
yang seperti ini masih giat mencari lawan jenis
untuk dijadikan pacar, kalau ada yang mau, YA …
AYO…!
4. Malu kepada lawan jenis
Ini alasan yang berhubungan dengan kepribadian,
pada dasarnya malu adalah sikap terpuji, dalam
banyak hal seharusnya kita mempunyai akhlak
malu ini.
Dari Ibnu Umar Radliyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Malu adalah sebagian dari iman." (Muttafaq Alaihi)
Dari Ibnu Mas'ud Radliyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Di antara nasehat yang di dapat orang-orang dari
sabda nabi-nabi terdahulu ialah: Jika engkau tidak
malu, berbuatlah sekehendakmu!" (HR. Bukhari)
Dalam pergaulan dengan lawan jenis, malu
seharusnya lebih dikedepankan dan inilah sifat
yang terpuji di mata syariat.
Namun, adanya malu pada seseorang bisa jadi
bukan karena orang itu sadar syariat, tetapi karena
merasa tidak percaya diri, malu yang seperti ini
bisa hilang ketika suatu saat kelemahan-kelemahan
diri bisa diatasi. jadi jangan heran jika tiba-tiba si
pemalu menjadi pemberani dalam pergaulan
lawan jenis setelah kelemahannya teratasi.
5. Karena ALLAH Subhanahu wa ta’ala
Alhamdulillah inilah alasan yang tepat, mengapa
menjomblo? karena pacaran TIDAK
DISYARIATKAN dan SARAT MAKSIAT.
Memang ketika ingin menikah harus mengenal dan
mengetahui calon pasangan hidup, namun
pacaran bukanlah cara yang mesti ditempuh.
informasi mengenai calon pasangan hidup bisa
diperoleh lewat sumber yang terpercaya;
keluarganya, teman dekat maupun saudaranya
tanpa harus mendekati si dia.
AGAR JOMBLO TETAP PD (Percaya Diri)
1. Niatkan karena Allah Subhanahu wata’ala
Inilah yang menyebabkan kita jadi percaya diri
dalam status jomblo, ditengah-tengah kerumunan
muda-mudi yang terjerumus dalam pacaran.
InsyaAllah dengan berbekal niat seperti ini kita
memperoleh pahala dari Allah Subhanahu wata ’ala,
sebab, kita meninggalkan perbuatan maksiat dalam
rangka mendapatkan keridhoanNya.
2. Yakini bahwa aktivitas pacaran adalah maksiat
Di dalam pacaran ada serangkaian aktivitas maksiat
yang mengantarkan pelakunya pada perbuatan
zina. Mulai dari melihat, memegang, bersepi-sepi,
dst. Yakini bahwa pacaran adalah perbuatan
munkar, sehingga kita pun tenang mengatakan
"ALHAMDULILLAH, AKU JOMBLO".
3. Tenang dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala
Fitrah manusia memang selalu tertarik dengan
lawan jenisnya, keinginan untuk menyalurkan
ketertarikan kepada lawan jenis adalah sesuatu
yang manusiawi. Namun jangan sampai hal ini
membuat kita menempuh jala yang dilarang Allah
Subhanahu wata ’ala. Yakinlah dengan takdir Allah
Subhanahu wata’ala, bahwa masa-masa itu akan
datang (pernikahan).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“ Allah telah menulis (di Lauhu Mahfuzh) segenap
takdir makhluk 50.000 TAHUN sebelum Ia
menciptakan langit dan bumi ” (HR. Muslim)
Ibnu Umar berkata, "Demi Alah yang jiwa Ibnu
Umar berada di tanganNya. Seandainya salah
seorang dari mereka memiliki emas sebesar
gunung Uhud lalu dia infakkan di jalan Allah, tidak
akan diterima oleh Allah sebelum ia beriman
kepada qadar/takdir."
4. Banyak-banyak melakukan amalan sholih
Gunakan setiap waktu yang diberikan oleh Allah
Subhanahu wata ’ala dengan memperbanyak
amalan sholih yang sesuai. Misalnya puasa
sunnah, sholat malam, menghafal Al-Qur ’an, birrul
walidayn, dsb. Kesibukan dalam hal kebaikan ini
akan memupus keinginan hati terhadap hal-hal
yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wata ’ala.
5. Gunakan waktu dengan sehebat mungkin
Jangan sampai waktu yang ada kita gunakan untuk
hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dunia dan
akhirat kita, waktu luang yang tidak dimanfaatkan
dengan baik merupakan penyakit berbahaya bagi
pemikiran, akal dan badan.
6. Jauhi tontonan, bacaan dan hal-hal yang
mendorong untuk berpacaran (termasuk di
FACEBOOK)
Hati manusia itu lemah, bila dorongan untuk
melakukan maksiat begitu besar maka seseorang
akan mudah terpengaruh dalam perbuatan
maksiat, dorongan itu bisa berasal dari tontonan,
bacaan, lingkungan, yang dorongan tadi mesti
ditepis jauh-jauh dengan menghindari sebab disisi
lain, sepantasnya kita berusaha untuk mencari
bacaan, tontonan dan lingkungan yang
mendorong kita untuk semakin taat kepada Allah
Subhanahu wata ’ala.
So.. Ayo Tunjukkan pada "MEREKA", kita jomblo
bukan karena kita NGGA LAKU tapi karena NGGA
ADA YANG MAU, eeehh.. maksud Ana karena kita
NGERTI SYARIAT..
Laki2 yang baik2 hanya untuk wanita yang baik2
dan begitu pula sebaliknya, BELIEVE IT!!!
{TQS.AN-NUR : 26}
* semoga bermanfaat *
sumber : disarikan dari el-fata ed 5 vol 7 2007
(dengan sedikit tambahan)

Hadist Cinta

قال رسول الله ص. م. احبب حبيبك هونا ما عسي ان يكو ن بغيضك يوما ما وابغض بغيضك هونا ما عسي ان يكو ن حبيبك يوما ما(رواه الترمذي)

Artinya :Rosullah Saw, bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bias saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi).

قال رسول الله ص. م.ان المتحابين لتري غرفهم في الجنة كالكوكب الطالع الشرقي اوالغربي فيقال من هؤلاء فيقال هؤلاء المتحابون في الله عزوجل(رواه أحمد)

Artinya:Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).

قال رسول الله ص. م.مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد اذا الشتكي منه عضو تداعي له سائر الجسد باالسهر والحمي(رواه مسلم)

Artinya:Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bias tidur dan merasa panas. (HR. Muslim).

قال رسول الله ص. م.والذي نفسي بيده لاتدخلون الجنة حتي تومنوا ولاتومنوا حتي تحابوااولاادلكم علي شيء اذا فعلتموه تحاببتم افشواالسلام بينكم(رواه مسلم)

Artinya:Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian mengenai sesuatu yang ketika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!. (HR. Muslim).

عن رسول الله ص. م. انه كان يقول في دعائه اللهم ارزقني حبك وحب من ينفعني حبه عندك اللهم مارزقتني ممااحب فاجعله قوة لي فيماتحب اللهم ومازويت عني مما احب فاجعله فراغا لي فيما تحب(رواه الترمذي)

Artinya:Dari Rasulullah Saw. yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai. (H R. Al-Tirmidi)

Dari mutiara Hadist

Mengapa kebanyakkan penghuni neraka adalah wanita ??

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dia berkata : Rasulullah Shallallahualaihi wa salam bersabda :

“Aku berdiri di pintu surga (ternyata) kebanyakkan orang yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang lemah, sedangkan orang-orang yang kemuliaan (yaitu : orang berharta, orang yang mempunyai kedudukan dan kebahagiaan materil) tertahan (dari masuk surga), tetapi penduduk neraka diperintahkan untuk masuk neraka. Aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakkan yang masuk ke dalamnya adalah para wanita � (Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)
Dan dihadits lain pun diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyAllahuanhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam, beliau bersabda :
Aku melihat-lihat ke dalam surga, Aku juga melihat-lihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakkan penghuninya adalah para wanita (Hadits shahih riwayat Bukhari dan diriwayatkan juga oleh Kutubbusittah)Sungguh. Allah telah menampakkan kepada Nabi kita Shallallahu alaihi wasalam tentang Surga dan Neraka pada malam Isra Mi’raj, ketika itu beliau melihat-lihat kedalam surga, ternyata penghuninya adalah orang-orang yang fakir. Beliau juga melihat-lihat ke dalam neraka ternyata kebanyakkan penghuninya adalah para wanita. (sekarang yang kita tanyakan apakah para wanita yang telah dijelaskan oleh beliau pada masa beliau ?)
jawabnya :Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam telah bersabda :
Sebaik-baiknya masa adalah pada masaku, kemudian sesudahnya ( sahabat,tabi’in, tabiut tabi’in ).Hadits cukup di kenal dikalangan para ahli ilmu tentang keshahihannya) Lalu siapakah yang disebutkan oleh beliau tentang para wanita. Wallahu A’lam
Kemudian apa kesalahan mereka ? apakah mereka tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ataukah mereka beryakinan bahwa agama itu harus memuaskan hawa nafsunya.
Atau mereka telah menganggap bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan dunia, kalolah benar, berarti benar apa yang dikatakan oleh Allah Ta’ala :
Katakanlah: Apakah (mau) Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia saja perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat usaha yang sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang mengingkari (kufur) terhadap ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, maka hapuslah amal pekerjaan mereka, dan Kami mengadakan suatu pertimbangan terhadap (amalan) mereka di hari kiamat.Demikianlah, balasan mereka ialah jahanam, disebabkan mereka kufur/ingkar dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rasul-rasul- Ku sebagai olok-olok.(Surat Al-Kahfi (18) ayat 103-106)
Ketahuilah, Wanita muslimah.
Atau apakah mereka telah mengadakan adanya pilihan lain untuk urusannya,padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tapi bagi mereka ada pilihan lain agar sesuai dengan hatinya atau ikut-ikutan dengan orang-orang disekitarnya.
Padahal Allah Ta’ala mengatakan dalam firman-Nya :
Dan tidaklah (patut) bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah tersesat, sesat yang nyata (Surat Al-Ahzab (33) ayat 36)
Dan firman-Nya :
Dan barangsaiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (Surat Thaha (20) ayat 124)
Lalu kenapa mereka tidak ittiba kepada para wanita yang ada pada masa Rasulullah SAW yang beliau tetapkan bahwa pada masa beliaulah yang terbaik.
Bukankah pada masa sekarang ini semua telah mengikuti perbuatan al yahud dan an nashara, sehasta demi sehasta lalu sejengkal demi sejengkal.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa beliau bersabda :Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya,yaitu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi lalu mencambukkannya ke tubuh manusia. kemudian sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layaknya telanjang. Condong dan berjalan melenggak-lenggok dan kepalanya bergoyang seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga,bahkan tidak dapat mencium aromanya, padahal aroma surga dapat tercium dalam jarak perjalanan segini dan segitu (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya)
Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah melihat-lihat kejadian dunia yang akan datang dan berbagai peristiwa yang menakutkan, maka beliau mengetahui sesuatu yang dipakai oleh wanita, sehingga beliau menyebutkan hadits tersebut. Jadi kita tidak perlu heran dalam hal itu.
Berikut perkataan para ulama-ulama tentang hadits tersebut.
Al Hafizh Abu Al Khaththab berkata : Sabda beliau, Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya maksudnya adalah kelompok dari golongan segala hal.
Ibnu Faris di dalam kitab Al Mujmal mengatakan bahwa cambuk termasuk siksaan yang sesuai dan cambuk artinya mencampur suatu bagian dengan bagian yang lain.
Sabda beliau :Sekelompok wanita yang mengenakan pakaian namun layak telanjang maksudnya dilihat dari segi baju mereka berpakaian, sedangkan dilihat dari segi agama mereka telanjang, karena mereka terbuka dan menampakkan lekuk-lekuk bentuk tubuh mereka dan sebagian kecantikannya.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Indahnya SURGA & Dahsyatnya NERAKA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Wahai manusia tidakkah kalian menginginkan keindahan dan kelezatan surga yang diberikan Alloh Subhanahu Wata'ala kepada orang-orang yang shalih? Yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati. Dapatkah kita bayangkan tempat tinggal penghuni surga yang telah dibangun oleh Alloh dengan tangan-Nya sendiri yang berbentuk istana..???
Yang bahan bangunannya adalah batu bata emas dan perak yang sebening kaca, buah-buahannya lembut lebih lembut dari keju, lebih manis dari madu, sungai-sungainya mengalirkan susu, madu dan arak yang tidak memabukkan, air jernih yang tidak berubah warna dan rasanya, keelokkan wajah penghuninya bagai bulan purnama di malam hari, kecantikan dan kebaikan bidadarinya (khairotun hisan) tak terbayangkan jelitanya, mulusnya, putihnya, kemontokan payudaranya, dipingit didalam kemah, belum tersentuh oleh jin dan manusia, yang selalu tersenyum dan mengucapkan kalimat yang selalu menyenangkan hati suami mereka, kendaraanya adalah unta dan kuda bersayap yang terbuat dari mutiara, begitu pula tanah dan debunya, makanan dan minumannya adalah hidangan istimewa yang tak terbayangkan kelezatannya, kasur dan permadaninya adalah kasur tebal dan sutra halus, gelas dan piringnya terbuat dari emas dan perak. Sungguh kenikmatan yang tiada tara dari janji yang tak mungkin di pungkiri oleh Yang Maha Rahman. Apalagi apabila Alloh menyingkap tirai-Nya dan terlihatlah wajah-Nya yang Mulia, sebagai niknat teragung bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

TAPI BAGAIMANA KEHIDUPAN DI NERAKA? Adalah sebaliknya penuh kedukaan, kecelakaan dan kepanasam yang amat sangat... Itulah balasan bagi orang-orang yang dzalim, munafik, musyrik, kafir dan durjana durhaka yang senantiasa bergelimang maksiat dan dosa yang tidak mau mengikuti perintah-perintah RobbNya, menyombongkan diri diatas bumi.
Tidakkah kedasyatan jahanam menggetarkan hatimu?
Kehidupan yang penuh dengan kepayahan, penuh darah dan nanah, kebusukannya membuat hidung meradang dan jeritan para penghuninya memekakan telinga, penuh kesakitan, kesengsaraan, kehancuran dan abadi kekal selamanya. Itulah para penghuni neraka jahanam, yang apabila tangan kita baru ditempelkan ke permukaannya saja maka melepuhlah tangan kita, timah cair yang disiramkan ke kepala-kepala manusia penghuni neraka membuat kepala melepuh hancur, lalu dijadikan lagi utuh tubuh itu, lalu disiram lagi yang akan terus menerus sampai tidak ada batas waktu lagi... KEKAL... SELAMANYA... hancur... selamanya...
Itulah balasan bagi orang-orang yang suka mengumbar hawa nafsu, berbuat zina, wanita-2 yang berpakaian tapi telanjang (apalagi telanjang seluruhnya dan di pertontonkan ke khalayak ramai), mendatangi dukun2, paranormala2, mengundi nasib, minum-minuman keras (khomr), riba (bisnis MLM termasuk didalamnya, apalagi yang tidak jelas seperti di Internet), mencampakkan anak yatim piatu, orang-orang miskin, berani terhadap orang tuany, dan menyengsarakan orang banyak.
Untuk itu marilah kita ingat akan siksaan Alloh yang Maha dahsyat di dalam Neraka yang kekal abadi sepanjang masa, tentunya setelah kita mati dari kehidupan dunia ini. Cepatlah bertobat, sholatlah 5 waktu, berjamaah di masjid, berbakti pada orang tua, tetangga dan manusia pada umumnya, infaq dan shodaqoh akan memperbanyak rezeki kita, yang mampu berhaji berangkatlah, dan berjamaahlah dalam barisan orang-orang shalih yang senantiasa beristiqomah dalam perjuangan islam, menegakkan kalimat Alloh dimuka bumi ini sehingga tidak ada lagi fitnah, itulah jalannya para Nabi dan Rasul, yang selalu mengumandangkan jihad fie sabilillah. Isy karimah aw mut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid. Sebagai syuhada-syuhada sejati. Tidak takut mati. Akan tetapi peganglah islam sampai mati. Sampai jasad ini terpisah dari ruh, walaupun siksaan dari para taughut selalu mengintai kita. PEGANGLAH ISLAM INI SAMPAI MATI_